Jumat, 29 Januari 2021

 

Membangun Karakter Untuk Berkompetensi Di Era Digital Agar Menjadi Good Digital Citizen

Pada masa pra-kemerdekaan, yang dikenal adalah pendidikan atau pengelolaan budi pekerti yang menanamkan asas-asas moral, etika dan etiket yang melandasi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan sehari-hari. Pada masa pemerintahan Orde baru yang dipimpin Soeharto, indoktrinasi itu berganti menjadi Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang bukan saja sebagai pelajaran wajib tetapi juga penataran wajib (Penataran P4). Dengan menggemanya reformasi, sekitar tahun 2000 digulirkanlah Kurikulum Berbasis Kompetensi yang membidani lahirnya pelajaran budi pekerti. Pada tahun 2010 Pendidikan Karakter telah menjadi Gerakan Nasional yang diimplementasikan dalam berbagai tingkatan sekolah.Konsep dasar peningkatan pendidikan karakter yang kembali digaungkan pada tahun 2017 ini adalah peningkatan nilai utama karakter yang saling terkait dalam membentuk jejaring nilai yang perlu dikembangkan sebagai prioritas. Kelima nilai utama karakter bangsa yang dimaksud adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Perubahan terjadi dengan sangat cepat, terutama teknologi, yang berdampak pada perubahan bisnis diseluruh negara. Di dunia kerja hadir teknologi yang memungkinkan adanya otomasi berbagai pekerjaan yang menggantikan yang menggantikan peran manusia. Saat ini teknologi komunikasi terus berkembang memudahkan bisnis yang tersebar di berbagai tempat. Selain itu, peran big data juga semakin penting dengan kecerdasan organisasi dan struktur organisasi yang lebih handal dalam mengolah data. Pekerjaan saat ini memang sangat dimudahkan dengan teknologi. Namun, satu hal yang tidak bisa dipasang dengan mesin dan teknologi, yaitu kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain, memahami, membangun dan membina hubungan. .

Tantangan dalam kewarganegaraan digital

Ada celah yang sangat lebar dari proses peningkatan pendidikan karakter ini, apakah apakah tersebut telah memasuki ranah kewarganegaraan digital. Generasi millennial dikenal sebagai penggemar teknologi, anak-anak millennial cenderung menjalin ikatan sosial yang kuat di luar sekolah, melalui peningkatan rasa keterhubungan dengan satu sama lain di dunia maya. Dan, kasus-kasus dalam interaksi kita banyak orang yang menyisakan pekerjaan rumah yang memerlukan sentuhan untuk perubahan. Ada yang tetap bijak dan tenang, namun tidak sedikit pula yang panas dan penuh aura kebencian. 

Kemampuan Manajerial Yang Harus Dimiliki Pada Era Digital

Para ahli menyampaikan prediksi yang mereka miliki di dunia kerja di era digital mendatang. Teknologi akan memiliki interaksi yang tinggi dalam menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan nyata sehingga para manajer dan anggota tim hanya akan fokus pada masalah dan arus ide baru. Kecerdasan buatan dan Big Data mampu menciptakan mesin yang bekerja seperti layaknya manusia tanpa ada campur tangan manusia di dalamnya. Sistem algoritma yang diciptakan lebih cerdas dan mampu mengolah data dengan lebih strategis karena terciptanya inovasi dalam komunikasi yang memungkinkan setiap orang memberikan ide, umpan balik yang baik dan penyelesaian masalah dalam hitungan detik.
Tentu saja ini ucapan hal yang terdengar bagus. Mungkin saja, peran kita yang sekarang ini juga akan tergantikan oleh mesin. Organisasi saling bersaing untuk membantu langkahnya masing-masing agar tetap mampu menghadapi era digital yang serba canggih. Untuk dapat bertahan di era digital yang serba canggih saat ini, kita harus terus berusaha meningkatkan diri dengan menguasai keahlian-keahlian yang relevan dengan dunia kerja di masa depan.

Ada 4 kemampuan manajerial yang harus di investasikan agar tetap dapat  berkembang dan berkembang  di era digital, terutama jika kita adalah pemimpin atau manajer.

1.      Ketangkasan Dalam Hal - Hal Teknis.

Kemampuan manajerial yang pertama adalah memiliki ketangkasan dalam hal-hal teknis. Sangatlah penting mendapatkan pelatihan tentang program dan aplikasi yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab yang dimiliki. Jika tidak membuka diri untuk mempelajari teknologi yang ada, kita hanya akan mengalami kemunduran dan tidak dapat bertahan di era digital.

2.      Ketangkasan Dalam Mengolah Data.

Kemampuan manajerial kedua adalah ketangkasan dalam mengolah data. Mengolah data adalah hal yang sangat menantang karena melibatkan kualitas, kesinambungan, keakuratan dan kelengkapan. Dengan begitu, kita akan dapat mengolah data dengan lebih mudah tanpa batasan waktu dan tempat.

3.      Ketangkasan Dalam Mengawasi Proyek Yang Dikerjakan

Kemampuan manajerial ketiga adalah ketangkasan dalam proyek yang dijalankan. Proyek - proyek yang dikerjakan harus fokus pada inovasi dan strategi yang digunakan untuk mewujudkan inovasi tersebut, seorang manajer harus mampu menemukan cara yang efektif dalam mendukung kerja tim dan menciptakan inovasi yang lebih baik.

4.      Ketangkasan Dalam Berjejaring

Era digital membuat setiap organisasi harus fokus pada pekerjaan horizontal, dimana organisasi harus menciptakan produk yang spesial dan menawarkan kelebihan lain. Ini mendukung organisasi dapat bertahan di tengah persaingan pasar yang tinggi. Seorang manajer juga harus mampu memaksimalkan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk membangun jaringan yang efektif. Itu semua merupakan strategi yang membutuhkan ketangkasan dalam berjejaring Mempersiapkan diri dengan meningkatkan 4 kemampuan manajerial diatas adalah cara yang dapat dilakukan agar kita dan bisnis yang dikelola dapat bertahan di era digital mendatang.

Softskill Dasar Yang Harus Di Miliki Oleh Tiap Individu Pada Masa Era Digital

1.       Motivasi

Memiliki keinginan dan keinginan yang kuat dalam mencapai tujuan bisnis dan organisasi dengan mengupayakan sekuat tenaga menghasilkan kinerja yang tinggi

2.       Komunikasi

Bisnis yang sukses itu ketika terjalin komunikasi dan koordinasi yang baik sehingga akan terbangun tim yang solid dan mampu meraih prestasi, dengan komunikasi yang baik segala sesuatu dan masalah bisnis akan lebih mudah, dan yang paling pintar membangun komunikasi yang eratnya dengan pemasaran.

3.       Pengendalian Emosi

Dalam hubungan berbisnis juga perlu penguasaan metode mengendalikan dan mengendalikan emosi serta belajar berempati, agar terjalin ikatan emosi yang baik sehingga terbentuk kerjasama yang kuat dengan tim atau bisnis mitra.

4.      Berpikir Kreatif dan Inovatif

Memiliki kemampuan berpikir, kreatif dan inovatif akan lebih mudah dalam menghadapi dan mengendalikan perubahan bisnis, serta mempercepat dalam menemukan solusi dari setiap sekolah dan perubahan yang cepat.

5.      Integritas

Selalu memegang teguh norma dan etika bisnis, untuk keberlangsungan jangka panjang, bisnis yang demikian akan lebih terfokus pada karya dan manfaat. Jadi untuk meminimalisir kegagalan bisnis dan pekerjaan yang baik-baik seperti pemaparan diatas perlu diperhatikan, Pelatihan soft skill dapat menjadi salah satu pilihan, karena mngembangkan keahlian soft skill dapat berdampak postitif untuk membangun perubahan yang lebih baik dalam dunia kerja dan bisnis.

 

 

 

 

 

  Membangun Karakter Untuk Berkompetensi Di Era Digital Agar Menjadi Good Digital Citizen Pada masa pra-kemerdekaan, yang dikenal adalah p...