SUKU ASMAT
MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR
Disusun oleh:
Edo Reva Pradana (31417868)
Erdianata Jaya Rosadi (31417952)
Ibnu Hafidz Al Farisi (32417794)
Lifia Pratiwi Ningsi (33417318)
Mhd. Fahmi Aziz (33417566)
Rakha Rizqullah (34417921)
Suci Berliana (35417783)
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017/2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini meskipun jauh dari kesempurnaan.
Pembuatan makalah ini diharapkan dapat menjadi
salah satu wadah pengetahuan dalam menimbah ilmu, utamanya dalam Ilmu Sosial
Dasar agar pembaca lebih mengetahui tentang Suku Asmat.
Pada kesempatan ini kami membuka diri untuk
menerima kritik dan saran yang berguna untuk perbaikan dalam makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan dalam proses pembelajaran.
Depok, Maret 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………II
DAFTAR ISI…………….………………………………………..…………...III
BAB I PENDAHULUAN.…………………………………………………….4
1.1 Latar Belakang……………………………………………………...……..4
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………….......4
1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………………………..5
1.4 Manfaat Penulisan…………………………………………………………5
BAB II LANDASAN TEORI…………………………………………………6
2.1 Pengertian Suku Asmat…………………………………………………....6
BAB III PEMBAHASAN……………………………………………………. 7
3.1 Bahasa Suku Asmat……………………………………………………….7
3.2 Sistem Kemasyarakatan Suku Asmat……………………………………..7
3.3 Sistem Pengetahuan Suku Asmat…………………………………………8
3.4 Sistem Mata Pencaharian Hidup Suku Asmat…………………………….9
3.5 Sistem Peralatan dan Perlengkapam Hidup Suku
Asmat………………...10
3.6 Sistem Religi Suku Asmat………………………………………………..11
3.7 Kesenian Suku Asmat…………………………………………………….13
BAB IV PENUTUP…………………………………………………………..14
4.1 KESIMPULAN…………………………………………………………...14
4.2 SARAN…………………………………………………………………...15
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Seperti telah kita ketahui bahwa Indonesia
terdiri dari berbagai jenis suku dengan aneka adat istiadat yang berbeda satu
sama lain. Suku-suku tersebut ada yang tinggal di pesisir pantai, perkotaan
bahkan dipedalaman. Salah satu diantaranya Suku Asmat.
Suku Asmat berada di antara Suku Mappi,
Yohukimo dan Jayawijaya di antara berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau
Papua. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini, Suku Asmat ada yang
tinggal di daerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km,
bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan
heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu
tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang
lainnya. Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km.
Dengan kondisi geografis demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya
cara untuk mencapai daerah perkampungan satu dengan lainnya.
Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku
dengan 193 bahasa yang masing-masing berbeda. Tribal arts yang indah dan telah
terkenal di dunia dibuat oleh suku Asmat, Ka moro, Dani, dan Sentani. Sumber
berbagai kearifan lokal untuk kemanusiaan dan pengelolaan lingkungan yang lebih
baik diantaranya dapat ditemukan di suku Aitinyo, Arfak, Asmat, Agast, Aya
maru, Mandacan, Biak, Arni, Sentani, dan lain-lain.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana bahasa yang digunakan suku asmat?
2. Bagaimana sistem kemasyarakatan suku asmat?
3. Bagaimana sistem pengetahuan suku asmat?
4. Apa saja sistem mata pencaharian hidup suku asmat?
5. Apa saja sistem peralatan dan perlengkapan hidup
suku asmat?
6. Bagaimana sistem religi suku asmat?
7. Apa saja kesenian suku asmat?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mendeskripsikan bagaimana bahasa yang digunakan
suku asmat.
2. Mendeskripsikan bagaimana sistem kemasyarakatan
suku asmat.
3. Mendeskripsikan bagaimana sistem pengetahuan suku
asmat.
4. Untuk mengetahui apa saja sistem mata pencaharian
hidup suku asmat.
5. Untuk mengetahui apa saja sistem peralatan dan
perlengkapan hidup suku asmat.
6. Mendeskripsikan bagaimana sistem religi suku
asmat.
7. Untuk mengetahui apa saja kesenian suku asmat.
1.4 Manfaat Penulisan
1. Sebagai pedoman untuk
menambah pengetahuan tentang suku asmat
2. Sebagai referensi bagi
penulis dalam pembuatan makalah berikutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Suku Asmat
Suku Asmat adalah nama dari
sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada
di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup
dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas.
Beberapa ornamen/motif yang
seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung yang
dilakukan oleh penduduk suku asmat adalah mengambil tema nenek moyang dari suku
mereka, yang biasa disebut mbis. Namun tak berhenti sampai disitu, seringkali
juga ditemui ornamen/motif lain yang menyerupai perahu atau wuramon, yang
mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di
alam kematian.
Bagi penduduk asli suku
asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam
melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Bahasa Suku Asmat
Bahasa
yang digunakan oleh suku Asmat termasuk kelompok bahasa yang para ahli
linguistik sebut sebagai Language of the Southern Division, bahasa-bahasa
bagian selatan Irian Jaya. Bahasa ini pernah dipelajari dan digolongkan oleh
C.L Voorhoeve (1965) menjadi filum bahasa-bahasa Irian (Papua) Non-Melanesia.
Bahasa-bahasa tersebut
digolongkan lagi berdasarkan wilayah orang Asmat yakni orang Asmat wilayah
pantai atau hilir sungai dan Asmat hulu sungai.
Secara
khusus, pembagian bahasa Asmat hilir sungai menjadi bagian kelompok pantai
barat laut atau pantai Flamingo seperti bahasa Kaniak, Bisman, Simay, dan
Becembub dan bagian kelompok Pantai Barat Daya atau Kasuarina seperti misal
bahasa Batia dan Sapan. Pembagian bahasa Asmat hulu sungai menjadi bagian
kelompok Keenok dan Kaimok.
Upaya
untuk mengidentifikasi bahasa masyarakat Asmat bisa dilakukan dengan cara
melihat aspek fonetik, fonologi, sintaksis, morfologi dan semantik bahsa Asmat.
3.2 Sistem Kemasyarakatan Suku
Asmat
Masyarakat suku Asmat mengenal sistem
kemasyarakatan yang disebut sebagai Aipem. Pemimpin Aipem biasanya mengambil
prakarsa untuk menyelenggarakan musyarawarah yang diharapkan untuk membicarakan
suatu persoalan, masalah bahkan pekerjaan. Syarat untuk dapat menjadi pemimpin
Aipem yaitu harus orang – orang yang pandai berkelahi, kuat dan juga bijaksana.
Sistem kekerabatan masyarakat
Asmat bersifat monogami, yaitu pernikahan satu pasang suami dengan istri. Namun
sekitar 25% perkawinan-perkawinan masyarakat Asmat bersifat poligami. Semua
klen dalam tiap masyarakat desa Asmat diklasifikasikan dalam dua golongan,
masing-masing merupakan suatu kelompok.
Suku bangsa Asmat, dalam sistem kekerabatan
mengenal tiga bentuk keluarga, antara lain sebagai berikut:
·
Keluarga
inti monogami dan kandung poligami
·
Keluarga
luas Uxorilokal (keluarga
yang sesudah menikah menempati rumah keluarga istri)
·
Keluarga
Avunkulokal (keluarga yang
dudah menikah menempati rumah keluarga istri dari pihak ibu)
3.3 Sistem Pengetahuan Suku Asmat
Suku Asmat mendiami daerah dataran rendah yang
berawa-rawa dan berlumpur serta dikelilingi hutan tropis. Daerahnya landai dan
dikelilingi ratusan anak sungai. Perbedaan pasang dan surut mencapai 4-5 m.
Dengan pengetahuan inilah dimanfaatkan oleh masyarakat suku Asmat untuk
berlayar. Dengan demikian, apabila air surut, orang Asmat berperahu ke arah
hilir dan kembali ke hulu ketika pasang naik.
Kayu kuning sangat berharga bagi orang Asmat
sebagai bahan utama ukiran, pahatan dan kapal. Rotan sebagai bahan utama
pembuatan keranjang sedangkan labu yang dikeringkan dimanfaatkan sebagai botol
air. Cangkang kerang dan gigi anjing dimanfaatkan sebagai perhiasan.
Suku
Asmat mengenal 3 warna dalam kehidupannya, yaitu merah, putih dan hitam. Warna
merah didapatkan dari larutan tanah merah dan air. Warna putih didapatkan dari
campuran kerang tumbuk dan air. Warna hitam didapatkan dari campuran arang dan
air.
Suku Asmat memiliki pola perilaku yang turun
temurun yaitu kanibalisme. Jika suku Asmat
membunuh seorang musuh, mayatnya dibawa ke kampung kemudian dimutilasi menjadi
bagian kecil. Lalu, dibakar untuk dimakan bersama-sama penduduk kampung. Masyarakat
suku Asmat biasanya memotong satu ruas jari apabila ada salah satu keluarga
yang meninggal. Bagi suku Asmat kematian disebabkan oleh roh jahat dan ilmu
hitam. Maka dari itu, apabila ada yang meninggal, orang Asmat akan menutup
segala lubang dan jalan masuk dengan tujuan menghalangi roh jahat.
Untuk memperoleh makanan di hutan, Suku Asmat
biasanya berangkat pada hari Senin dan kembali ke kampung pada hari Sabtu.
Selama di hutan, mereka tinggal di rumah sementara yang bernama bivak.
Masyarakat Asmat mengenal simbol-simbol ukiran yang menggambarkan perasaan
sedih, bahagia dan perasaan lainnya. Ukiran juga menyimbolkan komunikasi dengan
arwah leluhur.
3.4 Sistem Mata Pencaharian Hidup
Suku Asmat
Suku Asmat yang tingkat peradaban atau
kebudayaan masih sederhana, mata pencahariannya juga pastilah sederhana. Mata
pencaharian meliputi: berburu dan meramu, bercocok tanam dengan irigasi,
beternak dan mencari ikan.
Beruburu dan meramu itu sebenarnya merupakan
mata pencaharian yang tertua dan terjadi di berbagai tempat di dunia. Biasanya
suku asmat untuk meningkatkan hasil buruannya biasanya mereka menggunakan cara
tertentu missalnya dengan cara ilmu ghaib.
Makanan pokok Suku Asmat adalah sagu. Hampir setiap hari mereka makan sagu yang dibuat jadi
bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api. Kegemaran lain adalah makan ulat
sagu yang hidup dibatang pohon sagu, biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun
nipah, ditaburi sagu dan dibakar dalam bara api. Selain itu sayuran dan ikan
bakar dijadikan pelengkap. Namun yang memprihatinkan adalah masalah sumber air
bersih. Air tanah sulit didapat karena wilayah mereka merupakan tanah berawa.
Terpaksa menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan
sehari-hari.
3.5 Sistem Peralatan dan
Perlengkapan Hidup Suku Asmat
Berdasarkan macam bahan mentahnya maka berupa
alat-alat batu, tukang, kayu, bambu dan logam. Menurut K.T Oakley dalam budaya
berjudul” Man The Tool Maker”, teknik pembuatan alat-alat batu adalah dengan:
pemukulan (Percussion Hacking), penekanan (Presure Feaking), pemecahan
(Chipping) dan penggilingan (Glinding).
Alat-alat produksi dalam masyarakat
tradisional dibedakan menurut fungsi dan lapangan pekerjaannya. Berdasarkan
fungsinya, alat-alat produksi berupa alat potong, alat tusuk, alat menyalakan
api, alat pukul dan sebagainya. Berdasarkan lapangan pekerjaannya, alat-alat
produksi berupa alat ikat, alat tenun, alat pertanian, alat menangkap ikan, dan
sebagainya.
Senjata dalam kebudayaan tradisional dibedakan
nmenurut fungsi dan pemakaiannya. Menurut fungsinya dapat berupa alat potong,
alat tusuk, senjata lepas. Sedang menurut pemakaiannya senjata digunakan untuk
berburu, berperang dan sebaginya.
Dalam budaya masyarakat tradisional, wadah
digunakan untuk menyimpan, menimbun dan membawa barang. Berdasarkan bahan
mentahnya wadah tersebut terbuat dari kayu, bambu, kulit kayu, tempurung dan
tanah liat. Ada pula yang terbuat dari serat-serat seperti keranjang. Selain
tempat penyimpanan, wadah digunakan untuk memasak atau membawa barang
(transportasi)
Pakaian adat Suku Asmat adalah Koteka. Koteka ini terbuat dari kulit labu. Bentuknya panjang
dan sempit. Berfungsi untuk menutupi organ reproduksi kaum lelaki. Begitu juga
dengan koteka untuk perempuannya, sama-sama bertelanjang dada seperti lelakinya
dan mengenakan rok yang terbuat dari akar tanaman kering untuk menutupi organ
reproduksinya.
Rumah Tradisional Suku Asmat adalah Jeu dengan
panjang sampai 25 meter. Sampai sekarang masih dijumpai Rumah Tradisional ini
jika kita berkunjung ke Asmat Pedalaman.Bahkan masih ada juga diantara mereka
yang membangun rumah tinggal diatas pohon.
Ada 3 (tiga) bentuk rumah, yaitu:
·
Rumah
setengah dibawah tanah (semi sub-terranian dwelling)
·
Rumah di
atas tanah (surface dwellings)
·
Rumah-rumah
di atas tiang (Pile dwelling)
Dilihat dari pemakaiannya rumah sebagai tempat
berlindung dibagi ke dalam rumah tadah angin, tenda-tenda, rumah menetap. Rumah
menetap dapat dibedakan menjadi: rumah tempat tingggal keluarga kecil, rumah
tempat tinggal keluarga besar, rumah-rumah suci, rumah-rumah pemujaan dan
sebagainya.
3.6 Sistem Religi Suku Asmat
Suku Asmat beragama Protestan, Katolik, dan Animisme. Selain
itu orang suku Asmat juga percaya bila di wilayahnya terdapat tiga macam roh
yang masing-masing mempunyai sifat baik, jahat dan yang jahat namun mati.
Berdasarkan mitologi masyarakat Asmat berdiam di Teluk Flamingo, dewa itu
bernama Fumuripitis. Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal
manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi dalam 3 golongan.
·
Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik
terutama bagi keturunannya.
·
Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni
beberapa jenis tertentu.
·
Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol.
Kehidupan
orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut seluruh
komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang
seperti berikut ini:
·
Mbismbu (pembuat tiang)
·
Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)
·
Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)
·
Yamasy pokumbu (upacara perisai)
·
Mbipokumbu (Upacara Topeng)
Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah
orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa
penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta
menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta
seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta
ulat-ulat sagu.
Suku Asmat juga percaya akan adanya kekuatan magis
dan
roh-roh, jin-jin,
makhluk-makhluk halus, yang semuanya disebut dengan setan. Setan ini terbagi
menjadi 2 golongan:
·
Setan yang membahayakan hidup. Setan
yang membahayakan hidup ini dipercaya oleh orang Asmat sebagai setan yang dapat
mengancam nyawa dan jiwa seseorang. Seperti setan perempuan hamil yang telah
meninggal atau setan yang hidup di pohon beringin, roh yang membawa penyakit
dan bencana (Osbopan).
·
Setan yang tidak membahayakan hidup.
Setan dalam kategori ini dianggap oleh masyarakat Asmat sebagai setan yang
tidak membahayakan nyawa dan jiwa seseorang, hanya saja suka menakut-nakuti dan
mengganggu saja. Selain itu orang Asmat juga mengenal roh yang sifatnya baik
terutama bagi keturunannya., yaitu berasal dari roh nenek moyang yang disebut
sebagai yi-ow
3.7 Kesenian
Suku Asmat
Kesenian
Suku Asmat yang terkenal adalah ukiran yang terbuat dari kayu, seperti patung,
topeng, tifa, dan tombak. Secara kasat mata,
ukiran mereka bisa berbentuk perisai (dalam bahasa Asmat disebut Gembes),
manusia, atau perahu. Seni ukir suku
Asmat ini amat populer hingga mancanegara. Banyak wisatawan yang mengagumi
kesenian Suku Asmat ini.
Suku Asmat juga memiliki tarian tradisional, yaitu
Tari Tobe. Tari Tobe sering dimainkan saat
ada upacara adat. Tarian ini dilakukan oleh 16 orang penari laki-laki dan 2
orang penari perempuan. Dengan gerakan yang melompat atau meloncat diiringi
irama tifa dan lantunan lagu-lagu yang mengentak, membuat tarian ini terlihat
sangat bersemangat. Tarian ini memang dimaksudkan untuk mengobarkan semangat
para prajurit untuk pergi ke medan perang.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
1. Suku Asmat adalah nama dari sebuah suku
terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua,
Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal
adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas.
2. Bahasa yang digunakan oleh suku Asmat
termasuk kelompok bahasa yang para ahli linguistik sebut sebagai Language of
the Southern Division, bahasa-bahasa bagian selatan Irian Jaya.
3. Masyarakat suku Asmat mengenal sistem
kemasyarakatan yang disebut sebagai Aipem.
4. Suku Asmat mendiami daerah dataran rendah
yang berawa-rawa dan berlumpur serta dikelilingi hutan tropis. Daerahnya landai
dan dikelilingi ratusan anak sungai. Perbedaan pasang dan surut mencapai 4-5 m.
Dengan pengetahuan inilah dimanfaatkan oleh masyarakat suku Asmat untuk
berlayar.
5. Suku Asmat yang tingkat peradaban atau
kebudayaan masih sederhana, mata pencahariannya juga pastilah sederhana. Mata
pencaharian meliputi: berburu dan meramu, bercocok tanam dengan irigasi,
beternak dan mencari ikan.
6. Berdasarkan macam bahan mentahnya maka
berupa alat-alat batu, tukang, kayu, bambu dan logam. Menurut K.T Oakley dalam
budaya berjudul” Man The Tool Maker”, teknik pembuatan alat-alat batu adalah
dengan: pemukulan (Percussion Hacking), penekanan (Presure Feaking), pemecahan
(Chipping) dan penggilingan (Glinding).
7. Suku Asmat beragama Protestan, Katolik,
dan Animisme. Selain itu orang suku Asmat juga percaya bila di wilayahnya
terdapat tiga macam roh yang masing-masing mempunyai sifat baik, jahat dan yang
jahat namun mati.
8. Kesenian Suku Asmat yang terkenal adalah
ukiran yang terbuat dari kayu, seperti patung, topeng, tifa, dan tombak.
4.2 SARAN
Suku-suku yang telah ada harus kita hormati
dan kita jaga, karena suku-suku biasanya bersifat baik. Kita boleh mengikuti
suku-suku negara/tempat lain. Namun, kita harus tetap menjaga suku-suku daerah
yang kita punya, karena suku adalah hal yang diwariskan oleh nenek moyang kita
kepada kita yang sekarang.
DAFTAR
PUSTAKA
http://suku-asmat-smk.blogspot.co.id/2013/08/sistem-kekerabatan.html
http://restusangidaman.blogspot.co.id/2015/10/unsur-unsur-kebudayaan-suku-asmat.html