Rabu, 21 Maret 2018

ILMU SOSIAL DASAR "SUKU ASMAT"


SUKU ASMAT
MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR

Disusun oleh:
Edo Reva Pradana (31417868)
Erdianata Jaya Rosadi (31417952)
Ibnu Hafidz Al Farisi (32417794)
Lifia Pratiwi Ningsi (33417318)
Mhd. Fahmi Aziz (33417566)
Rakha Rizqullah (34417921)
Suci Berliana (35417783)


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017/2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini meskipun jauh dari kesempurnaan.
Pembuatan makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu wadah pengetahuan dalam menimbah ilmu, utamanya dalam Ilmu Sosial Dasar agar pembaca lebih mengetahui tentang Suku Asmat.
Pada kesempatan ini kami membuka diri untuk menerima kritik dan saran yang berguna untuk perbaikan dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan dalam proses pembelajaran.

Depok, Maret 2018

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………II
DAFTAR ISI…………….………………………………………..…………...III
BAB I PENDAHULUAN.…………………………………………………….4
1.1 Latar Belakang……………………………………………………...……..4
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………….......4
1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………………………..5
1.4 Manfaat Penulisan…………………………………………………………5
BAB II LANDASAN TEORI…………………………………………………6
2.1 Pengertian Suku Asmat…………………………………………………....6    
BAB III PEMBAHASAN……………………………………………………. 7
3.1 Bahasa Suku Asmat……………………………………………………….7
3.2 Sistem Kemasyarakatan Suku Asmat……………………………………..7
3.3 Sistem Pengetahuan Suku Asmat…………………………………………8
3.4 Sistem Mata Pencaharian Hidup Suku Asmat…………………………….9
3.5 Sistem Peralatan dan Perlengkapam Hidup Suku Asmat………………...10
3.6 Sistem Religi Suku Asmat………………………………………………..11
3.7 Kesenian Suku Asmat…………………………………………………….13
BAB IV PENUTUP…………………………………………………………..14
4.1 KESIMPULAN…………………………………………………………...14
4.2 SARAN…………………………………………………………………...15
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Seperti telah kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari berbagai jenis suku dengan aneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Suku-suku tersebut ada yang tinggal di pesisir pantai, perkotaan bahkan dipedalaman. Salah satu diantaranya Suku Asmat.
Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya di antara berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini, Suku Asmat ada yang tinggal di daerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Dengan kondisi geografis demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai daerah perkampungan satu dengan lainnya.
Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku dengan 193 bahasa yang masing-masing berbeda. Tribal arts yang indah dan telah terkenal di dunia dibuat oleh suku Asmat, Ka moro, Dani, dan Sentani. Sumber berbagai kearifan lokal untuk kemanusiaan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik diantaranya dapat ditemukan di suku Aitinyo, Arfak, Asmat, Agast, Aya maru, Mandacan, Biak, Arni, Sentani, dan lain-lain.
1.2  Rumusan Masalah
1. Bagaimana bahasa yang digunakan suku asmat?
2. Bagaimana sistem kemasyarakatan suku asmat?
3. Bagaimana sistem pengetahuan suku asmat?
4. Apa saja sistem mata pencaharian hidup suku asmat?
5. Apa saja sistem peralatan dan perlengkapan hidup suku asmat?
6. Bagaimana sistem religi suku asmat?
7. Apa saja kesenian suku asmat?

1.3  Tujuan Penulisan
1. Mendeskripsikan bagaimana bahasa yang digunakan suku asmat.
2. Mendeskripsikan bagaimana sistem kemasyarakatan suku asmat.
3. Mendeskripsikan bagaimana sistem pengetahuan suku asmat.
4. Untuk mengetahui apa saja sistem mata pencaharian hidup suku asmat.
5. Untuk mengetahui apa saja sistem peralatan dan perlengkapan hidup suku        asmat.
6. Mendeskripsikan bagaimana sistem religi suku asmat.
7. Untuk mengetahui apa saja kesenian suku asmat.
1.4 Manfaat Penulisan
1. Sebagai pedoman untuk menambah pengetahuan tentang suku asmat       
2. Sebagai referensi bagi penulis dalam pembuatan makalah berikutnya.






BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Suku Asmat                   
Suku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas.
Beberapa ornamen/motif yang seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung yang dilakukan oleh penduduk suku asmat adalah mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis. Namun tak berhenti sampai disitu, seringkali juga ditemui ornamen/motif lain yang menyerupai perahu atau wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian.
Bagi penduduk asli suku asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Bahasa Suku Asmat
Bahasa yang digunakan oleh suku Asmat termasuk kelompok bahasa yang para ahli linguistik sebut sebagai Language of the Southern Division, bahasa-bahasa bagian selatan Irian Jaya. Bahasa ini pernah dipelajari dan digolongkan oleh C.L Voorhoeve (1965) menjadi filum bahasa-bahasa Irian (Papua) Non-Melanesia. Bahasa-bahasa tersebut digolongkan lagi berdasarkan wilayah orang Asmat yakni orang Asmat wilayah pantai atau hilir sungai dan Asmat hulu sungai.
Secara khusus, pembagian bahasa Asmat hilir sungai menjadi bagian kelompok pantai barat laut atau pantai Flamingo seperti bahasa Kaniak, Bisman, Simay, dan Becembub dan bagian kelompok Pantai Barat Daya atau Kasuarina seperti misal bahasa Batia dan Sapan. Pembagian bahasa Asmat hulu sungai menjadi bagian kelompok Keenok dan Kaimok.
Upaya untuk mengidentifikasi bahasa masyarakat Asmat bisa dilakukan dengan cara melihat aspek fonetik, fonologi, sintaksis, morfologi dan semantik bahsa Asmat.

3.2  Sistem Kemasyarakatan Suku Asmat
Masyarakat suku Asmat mengenal sistem kemasyarakatan yang disebut sebagai Aipem. Pemimpin Aipem biasanya mengambil prakarsa untuk menyelenggarakan musyarawarah yang diharapkan untuk membicarakan suatu persoalan, masalah bahkan pekerjaan. Syarat untuk dapat menjadi pemimpin Aipem yaitu harus orang – orang yang pandai berkelahi, kuat dan juga bijaksana.
Sistem kekerabatan masyarakat Asmat bersifat monogami, yaitu pernikahan satu pasang suami dengan istri. Namun sekitar 25% perkawinan-perkawinan masyarakat Asmat bersifat poligami. Semua klen dalam tiap masyarakat desa Asmat diklasifikasikan dalam dua golongan, masing-masing merupakan suatu kelompok.
Suku bangsa Asmat, dalam sistem kekerabatan mengenal tiga bentuk keluarga, antara lain sebagai berikut:
·         Keluarga inti monogami dan kandung poligami
·         Keluarga luas Uxorilokal (keluarga yang sesudah menikah menempati rumah keluarga istri)
·         Keluarga Avunkulokal (keluarga yang dudah menikah menempati rumah keluarga istri dari pihak ibu)

3.3  Sistem Pengetahuan Suku Asmat
Suku Asmat mendiami daerah dataran rendah yang berawa-rawa dan berlumpur serta dikelilingi hutan tropis. Daerahnya landai dan dikelilingi ratusan anak sungai. Perbedaan pasang dan surut mencapai 4-5 m. Dengan pengetahuan inilah dimanfaatkan oleh masyarakat suku Asmat untuk berlayar. Dengan demikian, apabila air surut, orang Asmat berperahu ke arah hilir dan kembali ke hulu ketika pasang naik.
Kayu kuning sangat berharga bagi orang Asmat sebagai bahan utama ukiran, pahatan dan kapal. Rotan sebagai bahan utama pembuatan keranjang sedangkan labu yang dikeringkan dimanfaatkan sebagai botol air. Cangkang kerang dan gigi anjing dimanfaatkan sebagai perhiasan.
Suku Asmat mengenal 3 warna dalam kehidupannya, yaitu merah, putih dan hitam. Warna merah didapatkan dari larutan tanah merah dan air. Warna putih didapatkan dari campuran kerang tumbuk dan air. Warna hitam didapatkan dari campuran arang dan air.
Suku Asmat memiliki pola perilaku yang turun temurun yaitu kanibalisme. Jika suku Asmat membunuh seorang musuh, mayatnya dibawa ke kampung kemudian dimutilasi menjadi bagian kecil. Lalu, dibakar untuk dimakan bersama-sama penduduk kampung. Masyarakat suku Asmat biasanya memotong satu ruas jari apabila ada salah satu keluarga yang meninggal. Bagi suku Asmat kematian disebabkan oleh roh jahat dan ilmu hitam. Maka dari itu, apabila ada yang meninggal, orang Asmat akan menutup segala lubang dan jalan masuk dengan tujuan menghalangi roh jahat.
Untuk memperoleh makanan di hutan, Suku Asmat biasanya berangkat pada hari Senin dan kembali ke kampung pada hari Sabtu. Selama di hutan, mereka tinggal di rumah sementara yang bernama bivak. Masyarakat Asmat mengenal simbol-simbol ukiran yang menggambarkan perasaan sedih, bahagia dan perasaan lainnya. Ukiran juga menyimbolkan komunikasi dengan arwah leluhur.

3.4  Sistem Mata Pencaharian Hidup Suku Asmat
Suku Asmat yang tingkat peradaban atau kebudayaan masih sederhana, mata pencahariannya juga pastilah sederhana. Mata pencaharian meliputi: berburu dan meramu, bercocok tanam dengan irigasi, beternak dan mencari ikan.
Beruburu dan meramu itu sebenarnya merupakan mata pencaharian yang tertua dan terjadi di berbagai tempat di dunia. Biasanya suku asmat untuk meningkatkan hasil buruannya biasanya mereka menggunakan cara tertentu missalnya dengan cara ilmu ghaib.
Makanan pokok Suku Asmat adalah sagu. Hampir setiap hari mereka makan sagu yang dibuat jadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api. Kegemaran lain adalah makan ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu, biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah, ditaburi sagu dan dibakar dalam bara api. Selain itu sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap. Namun yang memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih. Air tanah sulit didapat karena wilayah mereka merupakan tanah berawa. Terpaksa menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

3.5  Sistem Peralatan dan Perlengkapan Hidup Suku Asmat
Berdasarkan macam bahan mentahnya maka berupa alat-alat batu, tukang, kayu, bambu dan logam. Menurut K.T Oakley dalam budaya berjudul” Man The Tool Maker”, teknik pembuatan alat-alat batu adalah dengan: pemukulan (Percussion Hacking), penekanan (Presure Feaking), pemecahan (Chipping) dan penggilingan (Glinding).
Alat-alat produksi dalam masyarakat tradisional dibedakan menurut fungsi dan lapangan pekerjaannya. Berdasarkan fungsinya, alat-alat produksi berupa alat potong, alat tusuk, alat menyalakan api, alat pukul dan sebagainya. Berdasarkan lapangan pekerjaannya, alat-alat produksi berupa alat ikat, alat tenun, alat pertanian, alat menangkap ikan, dan sebagainya.
Senjata dalam kebudayaan tradisional dibedakan nmenurut fungsi dan pemakaiannya. Menurut fungsinya dapat berupa alat potong, alat tusuk, senjata lepas. Sedang menurut pemakaiannya senjata digunakan untuk berburu, berperang dan sebaginya.
Dalam budaya masyarakat tradisional, wadah digunakan untuk menyimpan, menimbun dan membawa barang. Berdasarkan bahan mentahnya wadah tersebut terbuat dari kayu, bambu, kulit kayu, tempurung dan tanah liat. Ada pula yang terbuat dari serat-serat seperti keranjang. Selain tempat penyimpanan, wadah digunakan untuk memasak atau membawa barang (transportasi)
Pakaian adat Suku Asmat adalah Koteka. Koteka ini terbuat dari kulit labu. Bentuknya panjang dan sempit. Berfungsi untuk menutupi organ reproduksi kaum lelaki. Begitu juga dengan koteka untuk perempuannya, sama-sama bertelanjang dada seperti lelakinya dan mengenakan rok yang terbuat dari akar tanaman kering untuk menutupi organ reproduksinya.
Rumah Tradisional Suku Asmat adalah Jeu dengan panjang sampai 25 meter. Sampai sekarang masih dijumpai Rumah Tradisional ini jika kita berkunjung ke Asmat Pedalaman.Bahkan masih ada juga diantara mereka yang membangun rumah tinggal diatas pohon.
Ada 3 (tiga) bentuk rumah, yaitu:
·         Rumah setengah dibawah tanah (semi sub-terranian dwelling)
·         Rumah di atas tanah (surface dwellings)
·         Rumah-rumah di atas tiang (Pile dwelling)
Dilihat dari pemakaiannya rumah sebagai tempat berlindung dibagi ke dalam rumah tadah angin, tenda-tenda, rumah menetap. Rumah menetap dapat dibedakan menjadi: rumah tempat tingggal keluarga kecil, rumah tempat tinggal keluarga besar, rumah-rumah suci, rumah-rumah pemujaan dan sebagainya.

3.6  Sistem Religi Suku Asmat
Suku Asmat beragama Protestan, Katolik, dan Animisme. Selain itu orang suku Asmat juga percaya bila di wilayahnya terdapat tiga macam roh yang masing-masing mempunyai sifat baik, jahat dan yang jahat namun mati. Berdasarkan mitologi masyarakat Asmat berdiam di Teluk Flamingo, dewa itu bernama Fumuripitis. Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi dalam 3 golongan.
·         Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya.
·         Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni beberapa jenis tertentu.
·         Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol.
Kehidupan orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut seluruh komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang seperti berikut ini:
·         Mbismbu (pembuat tiang)
·         Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)
·         Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)
·         Yamasy pokumbu (upacara perisai)
·         Mbipokumbu (Upacara Topeng)
Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.
Suku Asmat juga percaya akan adanya kekuatan magis dan roh-roh, jin-jin, makhluk-makhluk halus, yang semuanya disebut dengan setan. Setan ini terbagi menjadi 2 golongan:
·         Setan yang membahayakan hidup. Setan yang membahayakan hidup ini dipercaya oleh orang Asmat sebagai setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang. Seperti setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di pohon beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana (Osbopan).
·         Setan yang tidak membahayakan hidup. Setan dalam kategori ini dianggap oleh masyarakat Asmat sebagai setan yang tidak membahayakan nyawa dan jiwa seseorang, hanya saja suka menakut-nakuti dan mengganggu saja. Selain itu orang Asmat juga mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya., yaitu berasal dari roh nenek moyang yang disebut sebagai yi-ow
3.7  Kesenian Suku Asmat
Kesenian Suku Asmat yang terkenal adalah ukiran yang terbuat dari kayu, seperti patung, topeng, tifa, dan tombak. Secara kasat mata, ukiran mereka bisa berbentuk perisai (dalam bahasa Asmat disebut Gembes), manusia, atau perahu. Seni ukir suku Asmat ini amat populer hingga mancanegara. Banyak wisatawan yang mengagumi kesenian Suku Asmat ini.
Suku Asmat juga memiliki tarian tradisional, yaitu Tari Tobe. Tari Tobe sering dimainkan saat ada upacara adat. Tarian ini dilakukan oleh 16 orang penari laki-laki dan 2 orang penari perempuan. Dengan gerakan yang melompat atau meloncat diiringi irama tifa dan lantunan lagu-lagu yang mengentak, membuat tarian ini terlihat sangat bersemangat. Tarian ini memang dimaksudkan untuk mengobarkan semangat para prajurit untuk pergi ke medan perang.


BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
1. Suku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas.
2. Bahasa yang digunakan oleh suku Asmat termasuk kelompok bahasa yang para ahli linguistik sebut sebagai Language of the Southern Division, bahasa-bahasa bagian selatan Irian Jaya.
3. Masyarakat suku Asmat mengenal sistem kemasyarakatan yang disebut sebagai Aipem.
4. Suku Asmat mendiami daerah dataran rendah yang berawa-rawa dan berlumpur serta dikelilingi hutan tropis. Daerahnya landai dan dikelilingi ratusan anak sungai. Perbedaan pasang dan surut mencapai 4-5 m. Dengan pengetahuan inilah dimanfaatkan oleh masyarakat suku Asmat untuk berlayar.
5. Suku Asmat yang tingkat peradaban atau kebudayaan masih sederhana, mata pencahariannya juga pastilah sederhana. Mata pencaharian meliputi: berburu dan meramu, bercocok tanam dengan irigasi, beternak dan mencari ikan.
6. Berdasarkan macam bahan mentahnya maka berupa alat-alat batu, tukang, kayu, bambu dan logam. Menurut K.T Oakley dalam budaya berjudul” Man The Tool Maker”, teknik pembuatan alat-alat batu adalah dengan: pemukulan (Percussion Hacking), penekanan (Presure Feaking), pemecahan (Chipping) dan penggilingan (Glinding).
7. Suku Asmat beragama Protestan, Katolik, dan Animisme. Selain itu orang suku Asmat juga percaya bila di wilayahnya terdapat tiga macam roh yang masing-masing mempunyai sifat baik, jahat dan yang jahat namun mati.
8. Kesenian Suku Asmat yang terkenal adalah ukiran yang terbuat dari kayu, seperti patung, topeng, tifa, dan tombak.

4.2 SARAN
Suku-suku yang telah ada harus kita hormati dan kita jaga, karena suku-suku biasanya bersifat baik. Kita boleh mengikuti suku-suku negara/tempat lain. Namun, kita harus tetap menjaga suku-suku daerah yang kita punya, karena suku adalah hal yang diwariskan oleh nenek moyang kita kepada kita yang sekarang.











DAFTAR PUSTAKA
http://suku-asmat-smk.blogspot.co.id/2013/08/sistem-kekerabatan.html
http://restusangidaman.blogspot.co.id/2015/10/unsur-unsur-kebudayaan-suku-asmat.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Membangun Karakter Untuk Berkompetensi Di Era Digital Agar Menjadi Good Digital Citizen Pada masa pra-kemerdekaan, yang dikenal adalah p...